WELCOME TO !TEKNOLOGI DAN INFORMASI

Minggu, 25 Maret 2012

Apa Titik Temu Antara Ahadiyyah, Ein Sof, Atma, dan Tao? (3-habis)

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar


Mekanisme pemahaman Maqam Ahadiyyah-Wahidiyyah ada kemiripan dengan konsep Atna-Brahma dalam agama Hindu. Dalam agama Hindu, dikenal ada dua jalan untuk mengenal, mendekatkan, dan menyatukan diri  dengan Tuhan, yaitu jalan dari luar (The Outer Path), dan jalan dari dalam diri (The Inner Path).

Jalan pertama dapat membantu seseorang mengenal Tuhan melalui penyaksian Tuhan yang ada di mana-mana. Di mana pun seseorang berada di situ dapat menyaksikan wajah Tuhan ada di mana-mana. Kesadaran bahwa alam raya (cosmos) sebagai omnipresent Tuhan merujuk kepada Brahma.

Ciri utama jalan pertama ini melalui pengabdian, kesetiaan, dan kesalehan. Adapun jalan kedua (The Inner Path) dapat membantu seseorang mengenal Tuhan melalui penghayatan mendalam terhadap diri sendiri. Kesadaran bahwa Tuhan bersama kita (God Within) dan Ia ada lebih dalam dari organ tubuh kita paling dalam merupakan kesadaran terhadap Tuhan yang lebih tinggi (Atma).

Ciri utama jalan ini ialah kontemplasi dan penyucian jiwa yang dalam dunia tasawuf mungkin dapat dipadankan dengan konsep tafakkur dan tadzakkur untuk pembersihan jiwa (al-tadzkiyah al-nafs). Kesadaran utnuk menggunakan kedua jalan ini secara seimbang tentu merupakan pendekatan paling baik karena baik jalan pertama maupun jalan kedua sama-sama menjadikan Tuhan sebagai objek tujuan.

Dalam Islam integrasi, syariat dan hakikat mutlak diperlukan. Ibnu Athaillah pernah menyatakan, barangsiapa yang bertasawuf tanpa berfikih, maka ia zindik. Barang siapa yang berfikih tanpa bertasawuf, maka ia fasik. Barangsiapa yang menggabung keduanya, maka ia mencapai hakikat.

Kombinasi dan integrasi syariat dan hakikat merupakan jalan paling mulia dalam Islam. Dalam agama Hindu, orang-orang yang menjalankan dengan baik dan setia secara seimbang antara kedua pendekatan di atas berpotensi menghimpun apa yang disebutnya dengan kekuatan Ilahi (The Divine Force).

Para Rezi sering kali mempertunjukkan keajaiban-keajaiban yang tidak lazim dilakukan orang biasa. Dalam Islam, mungkin dapat dipadankan dengan wali yang memiliki karamah, yang memiliki kemampuan untuk melakukan perbuatan luar biasa (khaiqun lil ‘adah), walaupun dalam Islam karamah tidak pernah menjadi tujuan para wali.

Dari uraian di atas, ternyata agama-agama tertentu mempunyai kedekatan secara metodologis di dalam menjelaskan konsep ketuhanan. Satu sama lain bisa saling membantu menjelaskan konsep ketuhanannya masing-masing. Tentu saja antara satu agama dan agama lain banyak sekali perbedaannya, tetapi lebih baik menekankan aspek titik temu daripada menekankan aspek persamaan. Wallahua’lam.

Apa Titik Temu antara Ahadiyyah, Ein Sof, Atma, dan Tao? (2)

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar


Sefirot dapat dihubungkan dengan sifat-sifat Allah SWT dalam Islam. Pada sifat-sifat dan nama-nama Allah, masing-masing memiliki spesifikasi sesuai dengan kemahasempurnaan-Nya. Nama-nama ini dapat dijadikan sebagai entry point untuk lebih dekat lagi dengan Allah SWT.

Seseorang yang diliputi berbagai dosa dan maksiat dapat mendekatkan diri kepada Tuhan melalui penghayatan terhadap sifat dan nama-nama-Nya, seperti At-Tawwab (Maha Penerima Taubat), Al-Gafur (Maha Pengampun), dan Maha Pemaaf (Al-Afuw), dan Maha Indah (Al-Jamal).

Meskipun demikian, sikap permisif tidak bisa juga ditoleransi karena Allah juga memiliki sifat yang kebalikannya, yaitu Al-Muntaqim (Maha Pendendam), Al-Mutakabbir (Maha Angkuh), dan Al-Jalal (Maha Perkasa). Para Kabbalis juga mempunyai persamaan dengan kalangan sufi tentang keesaan Tuhan.

Kalangan sufi dan Kabbalis sangat berhati-hati menjelaskan hal ini karena bisa jatuh ke dalam apa yang disebut dengan kesesatan. Para teolog dan fuqaha (ahli hukum) sering mempertanyakan bahkan menyesatkan para sufi dan Kabbalis karena tuduhan memperkenalkan konsep keqadiman ganda (ta’addud al-qudama).

Bagi para teolog dan fuqaha, Tuhan harus suci dari pengaruh selain-Nya karena Dia Yang Maha Esa, Maha Kuasa, Maha Besar dan Maha Takterbandingkan (Incomparability) dengan apa pun.

Sementara sufi berbicara tentang Maqam Ahadiyyah dengan Maqam Wahidiyyah, Al-A’yan Ats-Tsabitah, Shifat, dan Asma’ yang dianggapnya bukan alam atau bukan makhluk atau maj’ul. Nanti di level al-wujud al-kharijiyyah ke bawah, yang meliputi alam Jabarut, alam Barzakh, dan alam Mulk/Syahadah baru dianggap sebagai makhluk atau maj’ul.

Itu pun oleh kalangan sufi seperti Ibnu Arabi tidak mau menggunakan istilah Khaliq dan makhluk, tetapi Al-Haq dan Al-Khalq karena meskipun keduanya berbeda, tetapi tidak bisa dipisahkan. Wujud al-khalq hanyalah merupakan efek dan manifestasi (tajalli) dari Al-Haq itu sendiri.

Dalam Taoisme, relasi hamba-Tuhan dijelaskan dengan konsep Dualitas Ilahi (The Duality of God). Dalam The Tao Te Ching disebutkan bahwa The Sacred God merupakan tanpa nama yang merupakan asal langit dan bumi (The Nameless is the origin of haven and earth).

Langit digambarkan dengan Yang dan bumi digambarkan dengan Yin. Tuhan ibarat langit: besar, tinggi, terang, dan kreatif, sedangkan makhluk ibarat bumi: kecil, rendah, gelap, dan reseptif. Yang (muatstsir): menimbulkan pengaruh dalam segala hal dan Yin (ma’tsur): menerima pengaruh dalam segala hal.

Interaksi antara Yang/Muatstsir dan Yin/Ma’tsur menimbulkan 1.000 hal (al-katsrah). Tuhan menimbulkan realitas dan realitas menimbulkan entitas. Yang yang bertindak, sedangkan yin yang menerima tindakan. Tuhan memerlukan hamba jika Dia harus menjadi Tuhan dan hamba memerlukan Tuhan jika dia harus menjadi hamba.

Dengan demikian, makhluk merupakan  subsistensi Tuhan dan Tuhan merupakan substensi makhluk. Dalam teori Ad infinitum Pytagoras, satu sama dengan setengah dari dua, dan seterusnya sampai bilangan paling tinggi. Masing-masing bilangan membutuhkan angka satu. Tidak ada angka sejuta atau semiliar tanpa angka satu.

Apa Titik Temu antara Ahadiyyah, Ein Sof, Atma, dan Tao? (1)

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar


Jika engkau bicara soal ketakterbandingan, engkau telah membatasi. Jika engkau bicara soal kesempurnaan, engkau juga membatasi. Jika engkau bicara soal keduanya, engkau tepat mengenai sasaran; engkau seorang pemimpin dan syekh dalam ilmu-ilmu makrifat. (Ibnu Arabi).

Tak seorang pun menegaskan keesaan Zat Maha Esa, sebab semua orang yang menegaskannya sesungguhnya mengingkarinya. Tauhid orang yang melukiskan-Nya hanyalah pinjaman, tak diterima oleh Zat Maha Esa. Tauhid atas diri-Nya adalah tauhid-Nya. Orang yang melukiskan-Nya sungguh telah sesat. (Khaja Abdullah Anshari).

Dalam literatur tasawuf Yahudi (Kabbalah), Maqam Ahadiyyah dapat dihubungkan dengan Ein Sof yang secara harfiah berarti tanpa akhir (without end, the Infinite). Tuhan yang dalam sisi-Nya tak dapat dikenal (unknowable, indiscribable). Manifestasi Ein Sof melalui proses emanasi maka lahirlah apa yang disebut dengan sefirot.

Ein Sof dan sefirot merupakan dua hal yang tak terpisahkan, sebagaimana halnya Maqam Ahadiyyah dan Maqam Wahidiyyah yang dibahas dalam artikel yang lalu. Sefirot adalah esensi dari Ein Sof. Sefirot hanya merupakan efek atau akibat dari keberadan Ein Sof. Ia bagaikan lampu dengan cahayanya.

Cahaya sesungguhnya tidak ada tanpa keberadaan lampu. Sefirot nanti menjadi 10 manifestasi, namun satu sama lainnya tak terpisahkan dengan Sang Substansi, yaitu Ein Sof. Para kabbalis seperti Rabbi Gershom Scholem dan Rabbi Moses Luzzato berpendapat bahwa Ein Sof dan sefirot merupakan satu hal yang tak bisa dipisahkan.

Lebih tepat keduanya diterangkan dalam fenomena sebab akibat daripada Khalik dan makhluk. All the safirot are nothing but the Light of the infinite Himself (Semua aspek sefirot pada hakikatnya tidak ada, yang ada hanyalah cahaya dari ketakterbatasan-Nya sendiri).

Karena itu, banyak istilah yang sering digunakan para Kabbalis melukiskan Ein Sof, seperti Tuhan Yang Maha Tersembunyi (the Hidden and the Transcendent God), Penyebab Utama (The First Cause), Yang Maha Nyata (The Ultimate Reality), Yang Maha Taktermanifestasikan (The Unmanifest), Yang Maha Takterkomprehensifkan (The Incomprehensible), Yang Maha Taktertemukan (The Indiscrible), dan lainnya.

Istilah-istilah tersebut  juga sering ditemukan di dalam buku-buku tasawuf. Sefirot bukan hanya merepresentasikan kerja Ilahi, melainkan juga merupakan kelanjutan mekanisme kerja alam semesta dan hubungan relasional satu sama lainnya. Sefirot sebagai penghubung antara keterbatasan alam dan ketakterbatasan Tuhan.

Garis Pemisah antara Khalik dan Makhluk (3-habis)

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar


Pertanyaan lebih mendasar dan sering diperdebatkan para teolog, yaitu bagaimana posisi Alquran?

Apakah Alquran sebagai wahyu tetap sebagai bagian dari atau dalam lingkup al-A’yan ats-Tsabitah atau bagian dari al-A’yan al-Kharijiyyah, atau dimensi al-Kalam al-Dzati masuk di dalam al-A’yan ats-Tsabitah dan dimensi al-Kalam al-Lafdzi-nya masuk ke dalam al-A’yan al-Kharijiyyah?

Kalangan Mu’tazilah beranggapan Alquran itu baharu dalam pengertian mungkin memasukkannya di dalam al-A’yan al-Kharijiyyah. Seperti kita ketahui, kaum Mu’tazilah sangat konsisten mempertahankan keabadian tunggal Allah.

Mereka tidak mau mengakui adanya keabadian ganda (al-ta’addud al-qudama) karena hal itu bertentangan dengan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Esa (Allahu Ahad), bukannya Allahu Wahid yang masih membuka adanya peluang kedua (itsnan), ketiga (tsalatsah), dan seterusnya.

Berbeda dengan ulama Sunni lainnya, khususnya ulama tasawuf, yang masih menganggap adanya al-A’yan ats-Tsabitah yang di dalamnya ada Ism dan Shifat, termasuk Alquran sebagai Kalam Allah, yang bisa dipahami adanya keabadian ganda menurut kaum Mu’tazilah. Pembahasan posisi wahyu Alquran nanti dibahas ketika kita membicarakan Maqam Nubuwwah dan Risalah.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa batas antara Khalik dan makhluk atau Al-Haq dan al-khalq ialah di luar garis batas al-A’yan ats-Tsabitah. Sekalipun al-A’yan al-Kharijiyyah masih sangat tipis jaraknya dengan Al-A’yan ats-Tsabitah, tetapi ia sudah masuk di level alam atau makhluk.

Garis Pemisah antara Khalik dan Makhluk (2)

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar


Ibnu Arabi mengumpamakan seperti ada sebuah cermin yang merefleksikan semua objek yang ada di hadapannya.
Ibarat bunga yang berwarna-warni maka berbagai bunga dan warna-warni itu direfleksikan secara persis di dalam cermin itu. Namun, kembang warna-warni di dalam cermin tidak sama dengan asli kembang warna-warni di depan cermin.

Yang di dalam cermin adalah wujud kamuflase dan yang di depan cermin itulah wujud hakiki. Entitas-entitas (al-a’yan) yang mempunyai potensi untuk bermanifestasi dikenal mempunyai dua macam. Ada yang mungkin bermanifestasi ke dalam wujud kharijiyyah, yaitu aspek batin yang tidak bertentangan dengan aspek lahiriyah disebut aspek al-Mumkinat.

Sementara itu, yang tidak termanifestasi ke dalam wujud kharijiyyah itulah yang disebut dengan aspek al-Mumtani’at. Contoh entitas yang masuk kategori al-Mumkinat ialah sifat rahmah kemudian diberi nama Al-Rahman atau Al-Rahim (Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang), sedangkan contoh yang termasuk al-Mumtani’at ialah Dia Yang Pertama (Al-Awwal) dan Dia juga Yang Terakhir (Al-Akhir), Dia Yang Maha Dhahir (al-Dhahir), dan Dia juga Yang Maha Bathin (Al-Bathin).

Yang terakhir ini disebut al-Mumtani’at karena merupakan forms Al-Asma’ Al-Gaibiyyah yang ekslusif di dalam Haqiqat Ilahiyyah (Divine Realities) dan tidak bisa bermanifestasi ke dalam dunia lahiriyah (al-wujud al-khariji). Semua Hakikat Ilahiyyah tidak akan pernah bakal berwujud konkret selama-lamanya. Namun, dari segi madzahirnya dapat berwujud (maujud) di level aktual (khariji).

Oleh karena setiap al-Shifat dan al-Ism masing-masing menuntut manifestasi, tak terhindarkan lahirnya berbagai manifestasi (al-katsrah/multiplicity). Dari sinilah wujud potensial bermanifestasi menjadi wujud aktual atau wujud konkret, seperti berbagai lapisan alam yang dikenal dengan alam Jabarut, Malakut, Barzakh, Syahadah, atau alam Mulk.

Dari sini juga dipahami bahwa batas dan jarak antara Tuhan dan alam dalam arti apa-apa selain Allah (ma siwa Allah) teramat dekat, bahkan Alquran sendiri menyebutnya dengan wa Nahnu aqrabu ilaihi min habl al-warid (Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya) (QS. Qaf: 16).

Garis Pemisah antara Khalik dan Makhluk (1)

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar


"Jika dari dirimu tidak lahir amal perbuatan yang di situ ada noda dan dosa, Allah SWT akan menciptakan manusia yang berbuat salah agar mereka bisa berdosa dan melakukan kesalahan. Dan lantas memohon ampun atas dosa itu, menjadikan sifat dari Zat Yang Maha Pemaaf termanifestasikan.”
(Hadis yang dikutip oleh Abdurrrahman Jami’ dalam Naqd An-Nushuh hal 71-72).

Dalam artikel-artikel terdahulu dijelaskan apa itu potensi wujud yang biasa disebut Entitas Tetap (Al-A’yan ats-Tsabitah) dengan tingkatan-tingkatannya dari martabat Ahadiyyah sampai Wahidiyyah.

Dari uraian-uraian tersebut dapat dikesankan semakin tinggi level wujud, semakin rumit untuk dipahami. Dan semakin rendah level itu, semakin mudah dipahami.

Namun, sulit kita membayangkan adanya pemahaman utuh terhadap Sang Khalik dan makhluk-Nya tanpa memahami level-level tersebut. Bahkan, menurut kalangan arifin, memahami level-level ini salah satu inti dari makrifat.

Tidak gampang memahami garis pemisah antara Sang Khalik dan makhluk-Nya. Ibaratnya kita akan membedakan antara sumber cahaya dan cahayanya atau antara laut dan ombaknya serta antara wujud dalam cermin dengan objek di depan cermin. Mungkin inilah sebabnya mengapa Ibnu Arabi enggan menggunakan istilah Khalik dan makhluk.

Sebaliknya, dia lebih memilih menggunakan istilah Al-Haq untuk Allah SWT dan al-khalq untuk hamba dan makhluk-Nya. Berawal dari Zat Yang Maha Agung yang biasa disebut Gaib al-Guyub atau Haqiqat al-Haqiqah, yang bermanifestasi melalui proses al-faiddh al-muqaddas maka terwujudlah Al-A’yan ats-Tsabitah.

Di sana dikenal adanya wujud potensial berupa nama-nama (al-Asma’) dan sifat-sifat (al-Aushaf), kemudian bermanifestasi menjadi wujud konkret atau wujud aktual (al-A’yan al-kharijiyyah). Disebut al-A’yan al-kharijiyyah karena sudah keluar dari level al-A’yan ats-Tsabitah dan sudah menjadi awal dari makhluk yang diistilahkan oleh Ibnu Arabi dengan al-khalq.

Perbedaan antara al-shifat dan al-ism yang ada dalam level Al-A’yan ats-Tsabitah tidak begitu jelas karena keduanya masih merupakan satu kesatuan utuh. Al-Shifat lebih merupakan bentuk dan kualitas manifestasi, sedangkan al-Ism menjadi substansi dari bentuk manifestasi itu.

Sebagai contoh, sifat kekuasaan (al-qudrah) menjadi Al-Qadir, yaitu nama Tuhan yang terhimpun di dalam Al-Asma’ Al-Husna. Contoh lain sifat kasih sayang (al-Rahmah) menjadi Al-Rahman dan Al-Rahim, yaitu nama Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang juga menjadi bagian dari Al-Asma’ Al-Husna.

Nama (al-Isma) identik dan representasi dari yang diberi nama (al-Musamma). Di mana ada nama, di situ ada yang dinamai. Nama-nama Tuhan dalam al-Asma’ al-Husna tentu bukan hanya sebutan, melainkan sekaligus manifestasi dari yang dinamai. Nama-nama itu adalah refleksi dari objek yang dinamai atau diberi nama.

Apa Itu Insan Kamil? (3-habis)

Oleh: Prof Dr Nasaruddin Umar


Banyak contoh alam membangkang kepada manusia sebagaimana diperlihatkan di dalam kisah-kisah umat terdahulu di dalam Alquran.

Umat Nuh yang keras kepala (QS. 53: 52) ditimpa bencana banjir (QS. 11: 40). Umat Syu’aib yang korup (QS. 7: 85, 11: 84-85) ditimpa gempa mematikan (QS 11: 94).

Umat Saleh yang hedonistik (QS. 26: 146-149) ditimpa keganasan virus dan gempa bumi (QS. 11: 67-68). Umat Luth yang dilanda penyimpangan seksual (QS. 11: 78-79) ditimpa gempa dahsyat (QS. 11: 82). Penguasa Yaman, Raja Abrahah, yang ambisius ingin mengambil alih Ka’bah dihancurkan oleh burung/virus (QS. 105: 1-5).

Hujan tadinya menjadi sumber air bersih dan pembawa rahmat (QS. 6: 99), tiba-tiba menjadi sumber malapetaka. Banjir memusnahkan areal kehidupan manusia (QS. 2: 59). Gunung-gunung tadinya sebagai patok bumi (QS. 30: 7) tiba-tiba memuntahkan lahar panas dan gas beracun (QS. 77: 10).

Angin yang tadinya berfungsi dalam proses penyerbukan tumbuh-tumbuhan (QS. 18: 45) dan mendistribusikan awan (QS. 2: 164) tiba-tiba tampil ganas meluluhlantakkan segala sesuatu yang dilewatinya (QS. 41: 16). Lautan tadinya jinak melayani mobilitas manusia (QS. 22: 65) tiba-tiba mengamuk dan menggulung apa saja yang dilaluinya (QS. 81: 6).

Tadinya, malam membawa kesejukan dan ketenangan (QS. 27: 86) tiba-tiba menampilkan ketakutan yang mencekam dan mematikan (QS. 11: 81). Siang tadinya menjadi hari-hari menjanjikan (QS. 73: 7) seketika berubah menjadi hari-hari menyesakkan dan menyedot energi positif (QS. 46: 35).

Kilat dan guntur sebelumnya menjalankan fungsi positifnya dalam proses nitrifikasi untuk kehidupan makhluk biologis di bumi (QS. 13: 12) tiba-tiba menonjolkan fungsi negatifnya, menetaskan larva-larva (telur hama) betina, yang memusnahkan berbagai tanaman para petani (QS. 13: 12).

Disparitas flora dan fauna tadinya tumbuh seimbang mengikuti hukum-hukum ekosistem (QS. 13: 4) tiba-tiba berkembang menyalahi pertumbuhan deret ukur kebutuhan manusia sehingga kesulitan memenuhi komposisi kebutuhan karbohidrat dan proteinnya secara seimbang (QS. 7: 132).

Manakala manusia kehilangan jati dirinya sebagai insan kamil, pertanda berbagai krisis akan muncul. Sebaliknya, selama masih ditemukan kualitas insan kamil di muka bumi, sepanjang itu kiamat belum akan terjadi.

LATIHAN SOAL INFORMATIKA DAN TIK KELAS 11

 LATIHAN SOAL INFOLMATIKA KELAS 11 1.      Randi sedang menyusun Karya Ilmiah Remaja (KIR) untuk syarat kelulusan SMA. Saat mengatur bab pen...